Bersikap Objektif Dalam Memandang  Sesuatu

Akhir-akhir ini kita digemparkan dengan isu kelompok pembuat hoak yang dikelola secara rapi dan terorganisir dengan baik mulai dari organisasi Saracen dan yang terakhir ini adalah MCA. Kelompok ini bekerja dengan sungguh-sungguh dan serius membuat postingan-postingan yang sangat massif terkait isu yang ingin digulirkan di public seperti isu bangkitnya PKI, dan lainnya. Tentunya sudah pasti setiap isu yang disampaikan memiliki tujuan yang ingin diraihnya yaitu mempengaruhi opini public meskipun dengan memposting hoak. Hal itu karena mereka meyakini bahwa berita yang disampaikan secara massif dan terulang berkali kali akan dapat merubah mindset dan pola pikir seseorang. Apabila seseorang sudah dapat dipengaruhi pola pikirnya, maka akan dengan mudah untuk mengarahkan dan menentukan sikapnya. Karena seseorang akan bersikap sesuai dengan pola pikir yang dibangunnya.

Atas dasar ini, maka seseorang hendaknya bersikap objektif dalam memandang sesuatu. Objektivitas sangat diperlukan agar tidak terjebak dalam kesalahan bertindak dan kesalahan berpikir. Hal itu karena dalam bersikap dan bertindak seseorang seringkali dipengaruhi oleh latar belakang kepribadiannya, mindset, dan keyakinan sebelumnya. Sehingga dengan demikian dia kerapkali memandang sesuatu secara subyektif sesuai dengan keyakinan, kepribadian, mindset sebelumnya. Inilah yang disebut dengan cara berpikir subyektif bukan obyektif.  Hal ini yang harus dihindari dalam memandang segala sesuatu. Karena dengan berpikir subyektif kita tidak akan mendapatkan kebenaran dari suatu obyek tertentu. Dengan demikian, tidak ada pilihan lain, ketikan kita ingin mendapatkan kebenaran dari suatu realita atau  kejadian maka kita harus bersikap objektif, yaitu memandang sesuatu sesuai dengan obyeknya, apa adanya, tanpa terpengaruh oleh pandangan pribadi sebelumnya.

Untuk dapat berfikir objektif bukan subyektif  maka diperlukan langkah-langkah berikut ini :

Pertama, melepaskan diri dari keyakinan dan pandangan sebelumnya. Jangan fanatic terhadap keyakinan dan cara berpikir sebelumnya. Karena bisa jadi apa yang kita yakini selama ini juga adalah salah.

Kedua, Pandanglah dari sisi objeknya, apa adanya, jangan memandang dari sudut pandang kita sendiri dengan menggunakan interpretasi  diri  kita sendiri. Tapi, gunakanlah interpretasi obyek yang menjadi bahan penelitian.

Ketiga, Berpikirlah secara rasional dan logis, dengan menggunakan kaidah-kaidah ilmiyah dan cara berpikir yang benar  tidak menggunakan perasaan. Gunakanlah data dan bukti-bukti ilmiyah untuk mendapatkan kebenaran bukan prasangka dan opini.

Keempat, jangan menggunakan perasaan dalam menilai dan memandang sesuatu. Karena perasaan suka akan menutup mata semua aib dan cela dan sebaliknya perasaan benci akan membongkar semua kejelekan. Orang yang mencintai sesuatu pasti akan menjadi buta ketika berada di hadapannya. Dan sebaliknya orang yang benci terhadap sesuatu ia akan melihat semua yang ada adalah kejelakan. Hal itu sebagaimana pepatah Arab yang mengatakan :

وَعَيْنُ الرِّضَى عَنْ كُلِّ عَيْبٍ كَلِيْلَةٌ  وَعَيْنُ السُّخْطِ تُبْدِي الْمَسَاوِيَ

Artinya : Mata yang penuh dengan kerelaan akan tumpul terhadap semua aib, Sedangkan mata yang penuh kebencian akan menampakkan semua kesalahan.

Dengan demikian, agar kita tidak terjebak dalam kesalahan berpikir, bersikap dan bertindak, hendaknya kita bersikap obyektif dalam memandang sesuatu. Kita tidak boleh gampang percaya terhadap isu dan berita yang berkembang dan diviralkan secara massif. Karena berita yang viral belum tentu benar.

 

Tinggalkan Balasan