Pertarungan antara ego dan fitrah

Manusia merupakan makhluk ciptaan Allah yang paling sempurna. Hal itu karena manusia memiliki 2 unsur yang saling melengkapi yaitu unsur jasad dan ruh,  jasmani dan ruhani, material dan spiritual, tabiat dan fitrah. Pada prinsipnya, kedua unsur ini saling melengkapi dalam mengantarkan manusia menuju kesempurnaannya. Namun demikian keduanya memiliki keinginan dan dominasi yang berbeda sehingga seakan-akan keduanya saling bertentangan dan bertikai dalam kehidupan sehari-hari.

Unsur materi berorientasi pada kepuasan material seperti hasrat untuk mendapatkan uang, harta, jabatan, popularitas, penghormatan, dan lainnya yang terkait dengan kepuasan material semata. Sedangkan unsur ruhani mengangkat manusia dari kepuasan material menuju pada kepuasan spiritual yaitu untuk mendapatkan pahala dan kerelaan Tuhan, sehingga dengan demikian akan menjadi dekat dengan-Nya.

Unsur materi memandang kehormatan dan kemulyaan terletak pada hal-hal yang bersifat material, seperti harta yang banyak, jabatan yang tinggi, popularitas dan wanita. Sedangkan unsur ruhani memandang kehormatan terletak pada prinsip-prinsip kebenaran dan kebaikan seperti kejujuran, keadilan, kasih sayang, dan lainnya.

Keduanya saling mempengaruhi dan mendominasi hasrat dan keinginan manusia. Apalagi di sana ada bisikan syaitan dan ilham malaikat. Semuanya tergantung kepada manusia itu sendiri dalam mengelola ego dan fitrahnya. Apabila egonya mengalahkan fitrahnya niscaya dia tidak akan mampu menyerap cahaya Tuhan dalam dirinya, sehingga jiwanya akan menjadi gelap dan pasti akan berbuat ngawur dan cenderung salah dalam setiap langkahnya. Namun jika fitrahnya mampu mengalahkan dominasi egonya, niscaya dia akan berada pada cahaya yang terang benderang, sehingga dia akan senantiasa berbuat baik, benar dan bermanfaat bagi orang lain.

Dari mulai Nabi Adam sampai sekarang manusia digolongkan pada dua golongan ini. Pertama adalah golongan yang egonya mengalahkan fitrahnya seperti Qobil yang membunuh Habil, Fir’aun, Qorun, dan lainnya. Kedua adalah golongan yang fitrahnya mengalahkan egonya, yang spiritualitasnya mengalahkan materialistiknya, seperti para nabi dan rasul, para ulama, wali dan lainnya. Dan pertarungan ini terus berlanjut sampai detik ini.

Tidak ada pilihan lain, untuk sampai pada kesempurnaannya, manusia harus menjadikan unsur spiritual, ruhani mengalahkan unsur jasmaninya, fitrahnya mengalahkan egonya. Jika tidak, maka bukan hanya tidak akan sampai pada kesempurnaan manusia yang sebenarnya, bahkan manusia akan turun derajatnya menjadi binatang bahkan lebih hina dari binatang. Untuk itu maka Allah menurunkan kitab dan firman serta mengutus para Nabi dan Rasul-Nya.

Oleh karenanya agar kita terselematkan dari dominasi ego dan tipu daya syaithan yang senantiasa berusaha menjerumuskan kita, ada beberapa kiat berikut ini yang bisa membantu kita agar tetap sadar dan berada pada hidayah dan petunjuk Allah swt.

Pertama, mengikuti ajaran dan syareat para Nabi dan Rasul yang diutus oleh Allah untuk membawa manusia menuju kesempurnaan dan kebahagiaannya. Untuk sekarang ini berarti kita harus menigikuti para ulama robbani yaitu para ulama yang orientasi hidupnya hanya untuk Allah swt dan kehidupan akherat. Pergaulan sangat mempengaruhi cara hidup, sudut pandang dan orientasi hidup kita. Jika kita bergaul dengan orang-orang yang memiliki orientasi duniawi semata, maka sudah pasti kita akan memiliki sudut pandang dan orientasi duniawi yang materialistik. Apabila kita bergaul dengan orang yang berorientasi ruhani, spiritualis niscaya jiwa kita akan terpengaruhi dengan sifat-sifat ruhani dan spiritualistiknya. Ulama seperti ini, sekarang ini memang langka, tapi ada.

Kedua, tanyakan pada hati nurani yang paling dalam. Hati nurani senantiasa mengisyaratkan akan kebenaran-kebenaran hakiki. Rasul  saw bersabda : “Tanyakan pada hatimu”. Ini membuktikan bahwa hati nurani tidak akan salah dalam memberikan nasehat dan arahan kepada kita. Untuk itu sebelum kita melakukan sesuatu, jika kita masih ragu apakah hal ini benar atau salah? baik atau buruk? maka seyogyanya kita bertanya dulu pada hati nurani kita masing-masing. Para ulama menyamakan hati dengan akal yang dengannya kita dapat membedakan mana yang benar dan yang salah, yang baik dan yang buruk. Untuk itu perlu perenungan dan pemikiran yang dalam terhadap apa yang harus kita lakukan.

Ketiga, perbanyak wawasan, ilmu pengetahuan dan belajar. Belajar tidak hanya di sekolah atau bangku kuliah. Di rumah sendiri kita bisa belajar, berotodidak, dengan membaca buku, browsing dan lainnya. Karena ilmu pengetahuan akan membuka jendela dan cakrawala berpikir kita. Belajar tentang kesejatian manusia, filsafat penciptaan manusia dan hakikat kehidupan dan kesempurnaan manusia merupakan materi-materi yang perlu dikaji untuk mendapatkan kesempurnaan kita.

Keempat, memperbanyak do’a agar senantiasa mendapatkan bimbingan dari Allah swt dan dijauhkan dari godaan syaithan dan kekuatan ego. Doa merupakan senjata seorang mukmin. Rasul saw bersabda : “Do’a adalah senjata bagi orang yang beriman”. Kita tidak akan mampu mengalahkan ego dan nafsu kita tanpa pertolongan, taufik dan hidayah dari Allah swt. Dalam al-Quran ada surat khusus yang mengajarkan kita untuk berlindung kepada Allah dari godaan syaitan dan manusia yaitu surat al-Nas. Untuk itu kita dianjurkan untuk selalu berdo’a kepada Allah swt, meminta pertolongan agar terhindar dari dominasi ego dan godaan syaithan.

Kelima, hidup secara sederhana, zuhud dan tidak berpoya-poya atau berprilaku boros (mubadzir). Kehidupan yang sederhana merupakan cara hidup yang dianjurkan oleh para nabi dan rasul, karena orientasi hidup yang sebenarnya adalah kehidupan akherat. Kehidupan di dunia hanya sekedar terminal yang akan menghubungkan ke kehidupan selanjutnya. Untuk itu tidak perlu terlalu mewah sehingga mengakibatkan abay dan lalai akan tujuan sebenarnya. Dengan demikian, dia bisa berbagi kepada orang lain dari harta yang dimilikinya. Dengan berbagi, dia akan semakin jauh dari cinta dunia dan akan meningkatkan sepiritualitasnya dan mencintai kehidupan akherat.

Inilah beberapa kiat agar senantiasa mendapatkan hidayah dan petunjuk dari Allah swt, sehingga kita mampu mengalahkan ego kita dan terselamatkan dari tipu daya syaitan untuk selanjutnya dapat menjadi manusia yang sempurna, al-nafs al-muthmainnah yang mendapatkan predikat radiyatan mardhiyyah (Ridha dan diridhoi) sehingga langsung diseru oleh Allah swt “masuklah ke dalam hamba-hambaku dan masuklah ke dalam surgaku”. Selamat berjuang kawan

 

 

Tinggalkan Balasan