Tawakkal Kunci Hidup Sehat dan Bahagia

Tawakkal ternyata dapat menjadikan seseorang hidup sehat dan bahagia. Hal itu karena tawakkal bisa menjadikan hidup lebih relax, senang dan menyenangkan. Kok bisa? Ya. Dalam menjalani kehidupan yang serba cepat dan tidak menentu, kadang seseorang mengalami berbagai tekanan dalam hidupnya, seperti kecemasan, ketakutan, kemiskinan, kekurangan dan lainnya. Hal inilah yang menjadikan seseorang gelisah dan stress yang pada akhirnya dapat mengakibatkan menurunnya kekebalan tubuh dan gampang terkena penyakit seperti tekanan darah tinggi, kolestrol, gula darah, jantung dan lambung.

Secara umum tawakal adalah menyerahkan seluruh perkara kepada Allah SWT, bersandar pada kekuasaan-Nya dalam mengatur siklus alam semesta, mendahulukan perbuatan-Nya ketimbang perbuatan kita, dan mengutamakan kehendak-Nya di atas keinginan kita. Sedangkan dari kesehatan mental secara umum dapat dipahami bahwa orang yang sehat mentalnya adalah terwujudnya keharmonisan dalam fungsi jiwa serta tercapainya kemampuan untuk menghadapi permasalahan sehari-hari, sehingga merasakan kebahagiaan dan kepuasan dalam dirinya. Seseorang dikatakan memiliki mental yang sehat, apabila ia terhindar dari gejala penyakit jiwa dan memanfaatkan potensi yang dimilikinya untuk menyelaraskan fungsi jiwa dalam dirinya.

Dari gambaran umum dari tawakal dan kesehatan mental di atas, dapat dipahami bahwasannya tawakal berpengaruh terhadap kesehatan mental seseorang. Tawakal artinya berserah diri kepada Allah. Tawakal merupakan salah satu cara untuk meraih ketentraman batin. Apabila pengertian tawakal ditinjau dari segi psikologi, dapat dikatakan bahwa sikap tawakal itu mengandung makna penerimaan sepenuhnya terhadap kenyataan diri dan hasil usahanya sebagaimana adanya, atau dengan perkataan lain mau dan mampu menyesuaikan diri dengan diri sendiri, yang selanjutnya menunjukkan bahwa kesehatan mentalnya cukup baik.

Dalam ilmu psikologis, yang termasuk ke dalam gangguan jiwa ringan antara lain cemas, depresi, psikosomatis dan kekerasan. Sedangkan yang termasuk  ke dalam gangguan jiwa berat seperti skizofrenia, manik depresif dan psikotik lainnya. Menurut Hawari, tanda dan gejala gangguan jiwa ringan (cemas) adalah sebagai berikut:
1. Perasaan khawatir, firasat buruk, takut akan pikirannya sendiri dan mudah tersinggung.
2. Merasa tegang, tidak tenang, gelisah, mudah terkejut.
3. Takut sendirian, takut pada keramaian dan banyak orang.
4. Gangguan pola tidur, mimpi-mimpi yang menegangkan.
5. Gangguan konsentrasi dan daya ingat.
6. Keluhan-keluhan somatic, seperti rasa sakit pada otot dan tulang, pendengaran berdenging (tinitus), berdebar-debar, sesak nafas, gangguan pencernaan, gangguan perkemihan dan sakit kepala. Orang yang tidak mau atau tidak mampu menerima dirinya sebagaimana adanya, maka ia akan merasa tertekan, gelisah, cemas, dan lebih jauh mungkin akan terserang gangguan kejiwaan.

Orang yang tidak tawakal sering kali mengalami kecemasan, kekhawatiran serta ketidak puasan dengan hasil usahanya. Rasa was-was yang selalui menghantuinya. Was-was merupakan suatu penyakit hati atau gangguan kejiwaan yang amat mengganggu ketentraman batin. Penyakit tersebut semacam gangguan perasaan atau pikiran, di mana orang dikuasai oleh pikiran, perasaan atau pendapat tertentu dan tidak dapat melepaskan diri dari perasaan atau pikiran tersebut, karena ia merasa yakin akan hal tersebut, akan tetapi ia tidak membuktikannya. Penyakit itu semakin lama semakin meningkat atau berkembang.

Pada umumnya para pakar psikologi berpendapat bahwa gejala was-was merupakan salah satu macam dari penyakit kompulsi (Compulsions), yang sifat penyakit tersebut memaksa orang yang terkena untuk melakukan atau memikirkan sesuatu dan ia tidak dapat memahaminya, mengapa harus dilakukan atau dipikirkan. Manusia di dunia tidak lepas dari kemungkinan, mungkin suatu yang terjadi pada dirinya atau keluarganya, mungkin sesuai dengan keinginannya dan  mungkin juga yang terjadi sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginannya. Maka dari itu, adanya tawakal itu sangat penting karena apabila suatu hal yang diinginkan tercapai maka akan bersyukur kepada Allah dan apabila hasil dari usahanya tidak sesuai dengan keinginannya ia tetap tabah dan sabar dalam menghadapi, sehingga bisa memperoleh keberuntungan dalam hidupnya.

Antara seseorang dengan yang lainnya dalam menghadapi cobaan hidup tentu berbeda-beda, ada yang dalam menghadapi cobaan yang menimpa pada diri dan keluarganya mereka senantiasa menyesal, putus asa, tidak bersabar diri dan tidak berserah diri kepada Allah SWT. Di samping itu ada pula dalam menghadapi cobaan dalam hidupnya mereka penuh dengan kesabaran dan tawakal kepada Allah SWT dengan hati yang ikhlas. Sebagai contoh kita ambil seorang yang merasa dirinya kurang cantik atau kurang tampan, boleh jadi karena kulitnya hitam, hidungnya pesek, badannya terlalu gemuk atau kurus dan sebagainya, yang menyebabkan merasa diri kurang (kurang percaya diri) dan selanjutnya ia mudah tersinggung, bahkan mungkin merasa tidak dihargai orang. Dalam keadaan demikian, orang tersebut boleh jadi akan mencari-cari kelemahan dan kekurangan orang lain, agar ia dapat merasa sedikit lega, karena bukan dirinya saja yang menderita kekurangan. Dan ia selalu mencari orang yang dapat atau mampu mengobati kekurangan dirinya dan tidak jarang ia tertipu oleh orang yang pandai membujuk dan mengaku mampu menolongnya. Orang tersebut dapat dikatakan tidak mampu menerima dirinya sebagaimana adanya, atau tidak mau menyerah kepada Allah (tidak tawakal).

Kasus lain misalnya orang yang mengalami kegagalan dalam usahanya mencari nafkah, mencari pekerjaan, menuntut ilmu pengetahuan, bahkan mungkin mencari jodoh dan sebagainya. Usaha berat telah dilakukannya dalam masa yang cukup lama, di samping do’a, sholat, puasa dan berbagai ibadah lainnya. Namun usahanya tidak ada yang berhasil. Akhirnya ia kecewa. Demikian pula dengan orang yang tidak berhasil mencapai sakinah dalam berkeluarga, bahkan ada yang merasa bahwa usahanya memperbaiki hubungan keluarga, tidak berhasil, bahkan mungkin yang terjadi sebaliknya, di mana hubungan suami-istri semakin renggang dan menjurus kepada sebaliknya, seolaholah yang ada itu hanyalah perselisihan, pertengkaran bahkan permusuhan.  Ada pula manusia yang berburuk sangka kepada Allah SWT dalam hal rezeki. Mereka kurang puas terhadap rezeki yang diberikan Allah SWT kepadanya.

Kasus-kasus di atas terjadi karena kurangnya tawakkal kepada Allah swt. Jika dia menyerahkan segala urusannya kepada Allah niscaya tidak akan ada rasa kekecewaan, kegelisahan, ketakutan, stress dan lainnya. Karena dia yakin bahwa Allah SWT tidak akan meninggalkan hamba-Nya dan menyia-nyiakannya. Justru Allah SWT sangat menyayangi dan mencintai hamba-Nya melebihi seorang hamba  menncintai dirinya sendiri. Allah berfirman :

ومن يتوكل على الله فهو حسبه ان الله بالغ امره قد جعل الله لكل شيء قدرا

Artinya: Dan barang siapa yang bertawakkal kepada Allah swt maka Dia akan mencukupinya, Sesungguhnya Allah akan menyampaikan urusannya. Sesungguhnya Allah swt telah menjadikan segala sesuatu pada ketentuannya masing-masing.

Untuk itu yang diperlukan sekarang adalah ketundukan dan kepasrahan kepada Allah SWT dalam segala hal. Sholat sebenarnya merupakan sarana seorang hamba pasrah dan menyerahkan dirinya kepada Tuhannya. Dengan berdiri, rukuk, duduk dan sujud seorang hamba hendaknya berserah diri secara mutlak kepada Allah SWT dan menghilangkan rasa sombong, ujub dan takbburnya. Sehingga dengan demikian dia akan merasa lebih tenang, tentram, sehat dan bahagia.

 

Tinggalkan Balasan