Manajemen Perubahan Dalam Konteks Ilmu Nahwu

Ilmu Nahwu ternyata tidak hanya mengatur dan menjelaskan kaedah bahasa Arab saja, tetapi juga mengandung fungsi fungsi menajemen perubahan. Perubahan dalam Nahwu disebut I’rab yang terdiri dari 4 macam: Rofak, Nashob, Jar, Jazem.

Perubahan yang pertama adalah I’rab Rofak. Rofak dalam bahasa Arab berarti mengangkat. Jadi perubahan harus menuju pada sebuah kondisi atau keadaan yang mengangkat derajat, martabat, harkat dan taraf hidup masyarakat. Tanda I’rab Rofak ada 4 yaitu Dhommah, Wawu, Alif dan Tetapnya Nun.

Untuk bisa melakukan perubahan ke arah peningkatan harus melakukan 4 hal berikut : Pertama, adalah Dhommah yang berarti menghimpun, merangkul, mengakomodir, dan berkolaborasi dengan orang lain. kedua, Wawu bila diambil dari kata Wa’yu berarti kesadaran. Jadi untuk bisa meningkatkan sebuah bangsa maka perlu dibangun kesadarannya terlebih dahulu. Ketiga, Alif yang berarti jinak, kasih sayang dan cinta. Perlu cinta kasih di antara masyarakat untuk dapat tumbuh dan berkembang. Keempat Tetapnya Nun yang berarti kuatnya niat. Niat yang kuat serta tekad yang bulat untuk maju pantang mundur merupakan syarat utama kemajuan masyarakat.

Perubahan yang kedua adalah Irab Nashob. Nashob berarti pengangkatan, pendelegasian, pemberian tugas dan wewenang. Dalam hal ini perubahan diperlukan pemberdayaan potensi potensi yang ada dalam suatu masyarakat. Tanda I‘rab Nashob ada 5 yaitu fathah, alif, kasrah, ya dan hadzfununn. Untuk bisa melakukan pendelegasian yang baik maka pertama diperlukan fathah yang berarti keterbukaan akses informasi, keterbukaan hati dan kelapangan jiwa. Kedua, Alif atau kelembutan dan kasih sayang. Ketiga, kasrah yang berart memecahkan kebuntuan, kebekuan hubungan komunikasi, sehingga terjalin komunikasi yang baik antara semua pihak. Keempat Ya, yaitu yakin. Keyakinan merupakan syarat utama pendelegasian dan pemberdayaan. Kelima, hadzfunnun atau membuang Nun yang berarti membuang niat-niat yang jahat, oknum-oknum yang menggangu kelancaran sebuah organisasi atau masyarakat.

Perubahan yang ketiga adalah I’rab Jar yang berarti menarik. Perubahan yang memiliki ketertarikan dan keunikan. Sehingga dengan demikian bisa menarik perhatian orang untuk bekerja sama. Perubahan ini ditandai dengan kasrah yang berarti memecahkan. Hambatan, tantangan, permasalahan, kebekuan, status quo segala sesuatu yang bersifat stagnan harus dipecahkan terlebih dahulu. Setelah itu harus ada fathah atau keterbukaan hubungan,keterbukaan informasi, keterbukaan hati dan jiwa. Dan berikutnya perlu ada Ya yang berarti keyakinan. Keyakinan sangat diperlukan untuk menciptakan perubahan

Perubahan yang keempat adalah Irab Jazem. Jazem berarti kepastian, ketegasan. Perlu ada sebuah program yang jelas, jobdisc yang rinci, target yang terukur, aturan main, hukum yang tegas dalam menjalankan sebuah perubahan. Jika tidak, maka akan tumpang tindih dan semrawut. Perubahan ini ditandai pertama dengan sukun yang berarti ketenangan dan kenyamanan dalam bekerja. Kedua, hilangnya huruf ilat artinya hilangnya penyakit-penyakit sosial seperti korupsi, malas, hasud, iri, dengki. Ketiga,  hilangnya Nun atau niat niat busuk dari oknum-oknum jahat yang tidak bertanggung jawab.

Inilah beberapa konsep perubahan yang dapat digali dari kaedah ilmu nahwu khusunya bab I’rab. Meskipun hal ini hanya sebagai konsep cocokologi, atau yang dikenal dengan ilmu gathuk, tapi minimal bisa menjadi bahan renungan dan kajian bersama. Khusus bagi pengajar ilmu Nahwu hal ini dapat menjadi sumber pembelajaran yang mengaitkan ilmu nahwu dengan konsep manajemen dan kehidupan nyata.

Tinggalkan Balasan