TANTANGAN PESANTREN DI ERA GLOBALISASI

Pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam yang sangat tua di negara ini. Konon, pesantren didirikan sejak abad ke 15 masehi seiring dengan masa penyebaran Islam yang dibawa oleh para wali. Dalam perkembangannya pesantren mengalami berbagai perubahan sesuai dengan perkembangan dan tuntutan zaman. Dalam konteks era globalisasi seperti sekarang ini, tentunya pesantren menghadapi permasalahan yang serius. Jika tidak disikapi dengan bijak dan baik, lambat laun, sedikit demi sedikit pesantren akan kehilangan jati diri dan kedigdayaannya. Dalam merespon perkembangan zaman ini ada kaidah yang biasa digunakan yaitu al-muhafadzah ala al-qadim al-shalih wal akhdzu bil jadid al-ashlah (mempertahankan tradisi lama yang baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik).

Menurut saya Ada 4 pilar yang harus tetap dipertahankan di pesantren. Jika salah satu saja tidak ada, maka otomatis akan mengurangi nilai dan kualitas pesantren itu sendiri.

Pertama, bimbingan seorang kyai/mursyid. Pesantren didirikan oleh seorang kyai atau mursyid dengan tujuan untuk memberikan bimbingan keruhanian kepada para santri agar menjadi pribadi yang sholeh, taat beragama dan berakhlakul karimah. Keberadaan seorang kiyai sangat penting dalam pesantren. Tanpa bimbingan seorang kyai maka pesantren akan kehilangan ruhnya. Karena santri sangat membutuhkan model, idola dan orang yang dituakan untuk diikutinya. Bahkan dalam beberapa pesantren ada thoriqah yang dijadikan sebagai metode khusus penyucian jiwa yang dibimbing oleh seorang mursyid. Dengan demikian, diharapkan santri menjadi pribadi yang religius dan berakhlakul karimah. Jika tidak, maka akan sulit menanamkan nilai-nilai religius dan moral pada santri.

Kedua, pendalaman terhadap kajian keislaman terutama pada kitab-kitab klasik yang merupakan refrensi utama hukum-hukum Islam. Budaya intelektual, literasi, pengajian kitab klasik, diskusi, musyawarah merupakan bagian yang tidak boleh dipisahkan di pesantren. Dengan demikian, santri memiliki ketajaman intelektual untuk menjawab berbagai permasalahan yang ada. Suasana belajar dan mengaji ini merupakan ciri khas pesantren yang harus diciptakan dan dijaga, apalagi di tengah arus globalisasi seperti sekarang ini yang marak dengan permaianan, games dan lainnya.

Ketiga, ketaatan dan penghormatan kepada kyai, ustadz, dan system yang berlaku. Selain belajar keagamaan, pesantren juga melatih santri untuk taat pada kyai, guru, ustadz dan system yang berlaku. Karena di dalam pesantren pasti ada peraturan dan tata tertib yang ketat yang harus dilakukan oleh para santri dalam menerpa diri dan melatih jiwa menjadi lebih baik lagi. Budaya ta’dzim atau penghormatan serta khidmat atau bakti kepada kyai/ ustadz/ guru, merupakan ciri khas pesantren. Karena, dengan berkat kyai/ustadz/guru santri mampu memahami dan menguasai berbagai disiplin ilmu. Hal itu sebagaimana ucapan sahabat Ali kw : Aku adalah hamba bagi orang yang mengajariku satu huruf.

Keempat, kemandirian santri dalam memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Pesantren juga mengajarkan kemandirian. Santri yang jauh dari keluarganya diharapkan mampu mandiri dalam melakukan dan memenuhi kebutuhan sehar-hari seperti, makan, minum, mandi, mencuci pakaian, merapikan tempat tidur, kamar, dan belajarnya. Hal ini sangat penting untuk melatih mental dan kepribadiannya agar menjadi pribadi yang kuat dan tidak cengeng.

Di samping 4 pilar di atas yang harus tetap dipertahankan, ada 5 hal yang harus ditingkatkan dan dilakukan evaluasi, perbaikan sesuai dengan tuntutan zaman dan kebutuhan santri di masa depan :

Pertama, manajemen pendidikan dan pembelajaran. Manajemen identik dengan 4 hal; perencanaan, pengorganisasian, penggerakan dan pengawasan (evaluasi). Tanpa manajemen yang baik, maka pendidikan dan pembelajaran di pesantren akan kacau balau. Untuk itu diperlukan lembaga atau divisi tersendiri yang bergerak di 4 hal tersebut. Dengan demikian diharapkan tidak ada double kepentingan. Manajemen ini tentunya meliputi semua hal yang terkait dengan pendidikan; kurikulum, kesiswaan, sarpras, humas, SDM, pembiayaan, keuangan, dan lainnya. Semakin detail dan jelas serta transparan sistem tersebut maka akan semakin baik.

Kedua, Sarana prasarana. Sarana prasarana merupakan bagian penting dalam proses pendidikan. Karenanya dengan sarana prasarana yang memadai maka pendidikan akan semakin baik dan nyaman. Dulu pesantren terkesan dengan suasana yang kumuh, kotor dan tidak menarik. Untuk itu diperlukan perubahan mindset tersebut. Pesantren harus menjadi tempat yang bersih, menarik, elegan dan modern. Dengan demikian kesan negatif terhadap pesantren akan hilang dan berubah. Pesantren menjadi tempat pendidikan yang mumpuni, memenuhi standar-standar pendidikan nasional bahkan kalau bisa diusahakan berstandar international.

Ketiga, metode pendidikan dan pembelajaran. Metode pendidikan dan pembelajaran perlu dilakukan evaluasi dan modifikasi terus sesuai dengan tuntutan zaman dan kebutuhan siswa. Banyak metode pembelajaran sekarang yang ditawarkan. Dalam era teknologi yang canggih seperti sekarang ini, maka metode pembelajaran dengan menggunakan teknologi tidak bisa diabaikan. Metode ceramah yang monoton perlu dilakukan modifikasi dengan menggunakan sentuhan teknologi sehingga terkesan lebih menarik.

Keempat, pelayanan pendidikan. Dalam perkembangannya lembaga pendidikan tidak hanya sebagai tempat produksi yang mencetak siswa menjadi ilmuwan, cerdik pandai, tapi juga sebagai layanan jasa. Konsumennya adalah siswa dan wali murid. Kepuasan konsumen perlu diperhatikan dan ditingkatkan. Jika tidak maka akan ditinggalkan oleh konsumen. Karenanya, peningkatan pelayanan untuk memenuhi kepuasan konsumen sangat penting untuk keberlangsungan pesantren dewasa ini. Apalagi ada kompetisi yang ketat antara pesantren yang ada.

Kelima, kurikulum pendidikan. Kurikulum adalah seperangkat program pendidikan yang disiapkan untuk mencapai target, tujuan, sesuai dengan visi yang diharapkan. Kurikulum perlu untuk selalu dimodifikasi sesuai dengan tuntunan zamannya. Apa yang menjadi tuntutan zaman, dijadikan visi dan misi kemudian disusun program-program, buku, metode dan evaluasinya. Karena jika tidak mengikuti tuntutan zamannya, santri akan tidak bisa eksis di tengah-tengah masyarakat.

Inilah beberapa hal yang menjadi tantangan pendidikan pesantren di tengah era globalisasi seperti sekarang ini. Hal in tentunya perlu disikapi dengan bijak agar tidak ketinggalan dan ditinggalkan oleh masyarakat. Semoga pesantren di masa yang akan datang menjadi lembaga pendidikan ideal dan alternatif bagi masyarakat dalam upaya mendidik anak-anaknya untuk meningkatkan kecerdasan bangsa. amiin

Tinggalkan Balasan