Pendidikan Untuk Anak atau Untuk Orang Tua? Sebuah Renungan

Dewasa ini, banyak orang tua yang mengkhawatirkan masa depan anak-anaknya, sehingga mereka mensekolahkan anaknya di sekolah-sekolah yang favorit, terkenal dan unggulan walaupun dengan biaya yang tidak sedikit. Kekhawatiran orang tua antara lain karena mereka takut anaknya tidak bisa melanjutkan kuliah ke PTN ternama, takut pergaulan bebas yang cenderung negatif, takut pengaruh negatif internet yang notebene marak dengan pornografi dan pornoaksi serta permainan-permainan yang bernuansa kekerasan, takut pengaruh obat-obatan terlarang dan lainnya.

Kekhawatiran-kekhawatiran ini sebenarnya sah-sah saja dan sangat positif, asalkan didasari oleh kesadaran dan kecintaan anak pada sekolah-sekolah tersebut. Kadang orang tua menginginkan anaknya sekolah di tempat tertentu yang terpencil, jauh dari keramaian, penuh dengan kegiatan belajar dan aktifitas harian, sementara anaknya tidak menginginkannya dan tidak menyadari dan menikmatinya, hal ini juga perlu dipertanyakan. Sebenarnya pendidikan seperti ini untuk kepentingan anaknya atau untuk kepentingan orang tuanya? Mungkin orang tua merasa sudah benar dengan menitipkan anaknya di sekolah tersebut dan hal ini merupakan bukti sayangnya kepada anaknya, sementara anaknya tidak merasakan mendapatkan kasih sayang itu bahkan merasakan keterasingan dan pembiaran dari orang tuanya.

Hal ini tentunya akan menjadi kontraproduktif bagi anak dan orang tua. Jangan sampai dikemudian hari anak akan bersikap apatis dan putus asa terhadap masa depannya dan menyerahkan sepenuhnya kepada orang tuanya. Dan orang tua menyalahkan anaknya atau menyesal di kemudian hari. Untuk menghindari hal tersebut, ada beberapa hal berikut ini yang hendaknya diperhatikan oleh orang tua :

Pertama, pendidikan anak hendaknya memperhatikan masa tumbuh dan usia anak. Dalam kajian literatur Islam tentang fase-fase pendidikan anak, minimal ada 3 fase pendidikan : 7 tahun pertama anak sebagai raja, dibiarkan bermain dan belajar sesukanya. Orang tua memfasilitasi dan mengawasinya. 7 tahun kedua anak sebagai budak sahaya yang harus disuruh dan diperintahkan. Orang tua berhak mengajari, menyuruh dan melarang apa yang menjadi keinginannya. 7 tahun ketiga anak sebagai perdana menteri, wazir, dan teman. Orang tua mengarahkan dan mengajaknya berdiskusi, berkomunikasi dua arah.

Hal itu sebagaimana dalam pernyataan sahabat Ali kwberikut ini :

اُتْرُكْ وَلَدَكَ سَبْعُا وَعَلِّمْهُ سَبْعًا وَصَاحِبْهُ سَبْعًا

“ Biarkanlah anakmu pada umur tujuh tahun pertama, ajarilah pada tujuh tahun ke dua dan bertemanlah dengannya pada tujuh tahun ketiga”

Kedua, orang tua dengan segala obsesi dan keinginan terhadap anak-anaknya, pada usia 14 tahun ke atas, tetap harus memperhatikan kebutuhan dan keinginan anaknya. Orang tua harus memperhatikan kecerdasan dan potensi anaknya, mengarahkan dan memberikan beberapa pilihan-pilihan yang kemungkinan terbaik bagi anaknya. Selanjutnya membiarkan anaknya memilih dan menentukan pilihannya serta mendukung dan mensupport apa yang menjadi pilihannya. Dengan memberikan kebebasan memilih, minimal orang tua telah memberikan kepercayaan kepada anak untuk belajar memikul tangggung jawab di masa yang akan datang. Dan dengan demikian anak merasa dihargai dan dihormati serta disayangi yang pada akhirnya dia akan berjuang untuk menyatakan bahwa pilihannya adalah yang terbaik baginya. Tanggung jawab orang tua adalah membimbing, mengarahkan dan memberikan support serta dukungan bukan memaksakan kehendaknya, setelah itu, mendoakannya semoga anaknya berhasil dan mendapatkan yang terbaik. Masa depan anak biarkan menjadi tanggung jawab anak. Sehingga dengan demikian anak akan merasa tertantang dan berjuang mati-matian, fight dengan segala kekuatannya untuk sukses di masa mendatang.

Ketiga, sekolah adalah merupakan salah satu tempat belajar dan menimba ilmu pengetahuan. Ia bukan satu-satunya tempat belajar. Dengan demikian anak bisa belajar dari tempat-tempat lain selain di sekolah. Selama anak mendapatkan support dan kasih sayang yang penuh dari orang tuanya, dia akan berusaha untuk belajar sendiri secara otodidak dari sumber lainnya bila tidak mendapatkannya di sekolah. Hal ini justru sebenarnya yang akan memicu semangat belajar anak lebih baik dari pada dia belajar dengan keterpaksaan. Bahkan kadang anak belajar dari otodidak dan dari pengalaman-pengalamannya sendiri jauh lebih berhasil dan sukses ketimbang anak yang belajar di sekolah asalkan dia belajar dengan menikmati dan enjoy.

Keempat, masa depan adalah suatu misteri yang majhul, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah swt. Karenanya, serahkan semua masa depan anak-anak kita kepada Allah swt. Orang tua hanya bisa berdo’a dan anak hanya bisa berusaha. Selebihnya adalah urusan Allah swt. Walaupun dengan tawakkal seperti ini, tidak berarti mengababaikan hukum sebab akibat dan hukum alam yang berlaku. Aturan, prosedur tetap harus ditempuh. Adapun hasil akhir adalah milik Allah swt.

Jadi, yang paling penting dalam pendidikan anak adalah, kesadaran dan kesenangan dalam belajar, kasih sayang dan support dari orang tua, dan kebebasan untuk menentukan pilihan-pilihan di masa depan ketika anak sudah menginjak remaja/dewasa. Semoga dengan demikian, anak-anak akan tumbuh sehat, kuat, mandiri dan bertanggung jawab dan pada gilirannya sukses di masa yang akan datang.

Tinggalkan Balasan