Ketika Perbuatan Baik Mencari Tuannya

Kemarin saya bertemu dengan salah satu guru dari salah satu sekolah Negeri yang ketepatan sedang menjadi pengawas ujian nasional di sekolah. Dalam pertemuan singkat di ruang pengawas, dia bercerita dengan penuh bangga dan kagum, bahwa dia pernah suatu hari ditolong oleh salah satu siswa SMA Al-Ma’hadul Islami di Stasiun Kereta Api Bangil.

Konon katanya, saat itu dia ingin bepergian ke luar kota, kemudian dia memilih jalur kareta api. Karena menurutnya, kereta api sangat nyaman untuk bepergian. Kemudian dia bergegas menuju stasiun. Mengingat waktunya yang sempit, akhirnya dia sangat tergesa-gesa menuju stasiun.

Hari itu rupanya hari baik, sehingga banyak orang yang ingin yang bepergian melalui kerete api, sehingga dia harus rela antri dengan antrian yang panjang. Ketika antrian tinggal satu orang, dia mulai menyiapkan uangnya untuk bayar karcis, tiba-tiba dia terkejut, ternya dompet yang biasanya ada di sakunya tidak ada. Dia baru ingat bahwa dompetnya ada di celana satunya. Karena dia terburu-buru sehingga lupa untuk mengambil dompet yang ada di celana lainnya.

Perasaan gelisah, campur dengan malu berkecamuk di dalam dirinya. Sudah antri panjang melelahkan ternyata setelah hampir sempai, dompetnya tidak ada. Bayangannya jika dia harus pulang untuk mengambil dompetnya, maka sudah jelas dia ketinggalan tiket kereta api.

Beruntungnya, orang yang dihadapannya berbalik arah dan rupanya dia mengetahui kegelisahannya, sambil bertanya: Kenapa bapak gelisah? Ini nak dompet bapak ketinggalan, jawabnya. Oh kalau begitu nggak apa apa pak saya bayari tiketnya, ini ada kok. Pada awalnya dia menolak karena malu, tapi karena anak tadi memaksanya, akhirnya dia menerimanya. Kemudian dia berkata: Terima kasih nak. Kamu dari Sekolah mana, kelas berapa ? saya dari SMA Al-Ma’hadul Islami YAPI pak. jawabnya.

Senang bercampur kagum kepada seorang anak remaja yang memiliki hati mulia. Ternyata masih ada anak yang peduli kepada orang lain di tengah-tengah kehidupan yang egois dan nafsi-nafsi seperti sekarang ini, gumamnya di dalam hati. Konon kejadian itu terjadi pada bulan Januari beberapa bulan yang lalu.

Akhirnya pada saat ujian nasional tiba, dia meminta kepada penanggung jawab pengawas Sub Rayon, untuk mengawasi di SMA Al-Ma’hadul Islami untuk mencari siswa yang membantunya dan mengucapkan terima kasih kepadanya. Ketika sampai di sekolah di pagi hari, dia meminta untuk dipanggilkan seorang siswa yang bernama M. Hasyimi Rafsanjani siswa kelas XII yang akan menghadapi ujian nasional. Ketika siswa tersebut datang dia memeluknya dengan haru dan bangga sambil meneteskan air mata serta memberikan bingkisan dan hadiah kepadanya. Saya mendengar cerita darinya, terus terang merasa terharu dan bangga hingga tidak terasa meneteskan air mata.

Point yang ingin saya sampaikan dari cerita di atas bahwa jangan pernah merasa lelah untuk berbuat baik sekecil apapun. Karena perbuatan baik sekecil apapun jika dilakukan dengan ikhlas niscaya kebaikan tersebut akan kembali kepadanya cepat atau lambat, karena Allah tidak akan menyia-nyiakan perbuatan baik hambanya. Sebagaimana firmannya :

ان الله لا يضيع اجر المحسنين

“Sesungguhnya Allah tidak akan menyia-nyiakan balasan orang-orang yang melakukan kebaikan”.

Perbuatan baik yang kita lakukan kepada siapapun, pada hakikatnya kita telah berbuat baik kepada diri kita sendiri, karena kebaikan itu akan kembali kepada diri kita bukan kepada orang lain. Dan sebaliknya perbuata buruk yang kita lakukan kepada orang lain, pada hakikatnya kita telah berbuat buruk kepada diri kita sendiri, karena keburukan itu akan kembali dan berdampak buruk kepada diri kita sendiri. Hal itu sebagaimana firman Allah swt :

ان احسنتم احسنتم لانفسكم وان اسأتم فلها

” Jika kalian berbuat baik pada hakikatnya kalian telah berbuat baik untuk diri kalian sendiri, dan jika kalian berbuat buruk juga keburukan itu untuk diri kalian sendiri”.

Tinggalkan Balasan