Kenapa Yah Siswa Kerap Berani Melawan Gurunya?

Akhir-akhir ini kita dikejutkan dengan berbagai peristiwa bullying dan kekerasan antar pelajar. Kasus Audrey adalah salah satunya. Bahkan kasus bullying tidak hanya terjadi antar pelajar, tetapi juga terhadap guru seperti yang terjadi di salah satu sekolah di Gresik dan Sampang. Tentu ini sangat miris sekali. Guru yang mestinya mendapat penghormatan dan penghargaan diperlakukan tidak senonoh dan tidak wajar oleh murid-muridnya. Kenapa hal ini terjadi ?. Ada beberapa penyebab yang sangat rentan Kenapa Murid Berani Melawan Gurunya.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan siswa berani terhadap gurunya. Pertama, faktor internal psikologis siswa. Siswa yang cenderung berkepribadian impulsif, tertutup acap kali kesulitan mengendalikan emosi. Kondisi psikis ini melengkapi faktor sosialisasi dan subkultur kekerasan yang berkembang di habitat sosialnya. Harga diri yang terlalu tinggi dan idealisme yang berlebihan ditambah kepribadian yang kurang matang, sering menyebabkan seseorang tiba-tiba terpicu untuk melakukan aksi kekerasan bahkan terhadap figur guru yang seharusnya dihormatinya, meski karena hal sepele. 

Kedua, faktor eksternal atau faktor luar yang memicu ketidakpuasan dirinya terhadap keadaan sehingga membangkitkan emosinya yang cenderung tidak matang dan stabil. Ada beberapa faktor eksternal antara lain 

1. Sikap Guru 

 

Ucapan, perilaku dan gerak-gerik seorang guru itu selalu diperhatikan oleh murid-muridnya, tidak heran jika setiap perkumpulan pelajar didalamnya kerap ada pembahasan tentang guru-gurunya. Sikap guru yang tidak memberikan kenyamanan bagi muridnya akan berpotensi menjadikan murid bringas dan berani melawan gurunya, ada beberapa sikap, seperti : Tidak adil terhadap murid, sikap yang tidak konsisten, sikap yang keras (ucapan dan tindakan), ketiga sikap ini sangat menjamin timbulnya emosi dan tumbuhnya rasa untuk melawan dari murid terutama bagi pelajar SMP dan SMA. Di sini diperlukan keteladanan, karakter dan kebijaksanaan seorang guru. Guru harus menjadi figur yang ideal bagi muridnya, sehingga dihormati dan disenangi olehnya.

2. Manajemen Amburadul

Sekolah yang tidak memiliki manajemen yang jelas atau sudah punya panduan yang jelas namun guru tidak mengindahkan, ini juga berpotensi lahirnya perlawanan dari pelajar yang merasa tidak nyaman. jika aturan tidak berjalan tidak konsisten sempurna maka dampak yang akan ditimbulkan tindakan semena-mena dari pelajar. Manajemen yang baik merupakan solusi utama. Pengawasan dan kontrol terhadap kegiatan dan program sekolah harus diperketat. Karena biasanya yang lemah adalah pada aspek pengawasan dan kontrolnya. Karenanya program sebaik apapun jika tidak terkontrol akan menjadi amburadul.


3. Non compact

Dalam management sekolah sepatutnya dewan guru atau menjelis guru menjalin kekompakan dan saling menyokong, namun terkadang ada kesenjangan yang sering ditemukan di sekolah yaitu guru yang kerap membela murid yang bersalah dan itu dilakukan secara terang-terangan, ini sangat berdampak negatif. Sang murid akan semakin merejalela melawan gurunya karena merasa mendapat dukungan dan perlindungan. Untuk itu diperlukan kekompakan dewan guru dalam bersikap dan bertindak. Semuanya harus berada dalam satu komando, tidak berjalan sendiri-sendiri.

4. Faktor Keluarga

Sebab lainnya adalah faktor lingkungan keluarga murid, murid yang sudah terbiasa memberontak dan melakukan perlawanan kepada orang tuanya lantaran broken home atau lainnya yang mengakibatkan kurang kasih sayang dan perhatian, tentu di sekolah dia akan bersikap memberontak. Selain itu ada juga kasus yang kerap terjadi para orang tua bersikeras membela anaknya jika terjadi problem di sekolah, meskipun itu jelas salah anaknya namun orang tua tetap bersikeras menyalahkan pihak sekolah. Dengan demikian, sang anak akan menjadi-jadi dan semakin berani melawan gurunya. Karenanya, kerja sama antar sekolah dan keluarga sangat dibutuhkan untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang dihadapi siswa. Karena tanggung jawab pendidikan mestinya tetap berada di pundak orang tuanya. Sekolah sifatnya hanya membantu orang tua.

5. Sekolah Tidak Tegas

Ada sekolah yang tidak tegas dalam menegakkan aturan karena takut kehilangan murid. semua sistem mengutamakan (all for consumer). Semua untuk konsumen. Biasanya sekolah seperti ini akan menghadapi krisis mental, peraturan yang kerap berubah dan pola pendidikan tidak berjalan lancar. Murid melawan guru, murid melanggar peraturan itu sudah menjadi makanan sehari-hari. Ingin menerapkan hukuman tidak mungkin karena managemen dan sistem sudah diatur oleh konsumen dan atau takut akan kehilangan murid-muridnya. Oleh karenanya diperlukan aturan yang jelas dan mengikat. Semua tunduk pada aturan yang ditetapkan. Kewibawaan sekolah dan aturan sekolah harus dijunjung tinggi.

6. Semakin Ketatnya Persaingan

Arah perkembangan iklim pembelajaran belakangan ini cenderung makin kompetitif, impersonal, dan kurang membuka kesadaran siswa tentang arti penting kohesi sosial, solidaritas, dan toleransi. Pendidikan karakter–pelajaran tentang budi pekerti–sering kali tidak dikembangkan dengan serius. Hal ini terjadi karena banyak sekolah yang lebih mementingkan siswa sukses menempuh ujian nasional, kemudian dapat diterima di PTN terkenal sebagai representasi reputasi sekolah. Sehingga aspek sikap dan akhlak terabaikan. Hal ini dapat juga menyebabkan siswa stress dan gampang emosi. Kegiatan-kegiatan yang bersifat religius dan refreshing diperlukan untuk memberikan arah dan bimbingan yang benar serta membuat relax dan santai siswa.

7. Pembelajaran Yang Kurang Menarik

Selain dari itu, kurang dikembangkannya proses pembelajaran yang mampu menarik minat dan antusiasme siswa untuk terlibat aktif selama pelajaran berlangsung di kelas. Proses pembelajaran yang idealnya bersifat joyfull learning, sering malah berjalan menjemukan, dan membosankan siswa. Akibatnya siswa kehilangan gairah terlibat dalam proses pembelajaran di kelas. Dengan demikian diperlukan inovasi-inovasi pembelajaran yang menyenangkan dan memahamkan. Program-program yang meningkatkan kreatifitas dan imajinasi siswa perlu dikembangkan. Hal itu karena siswa sekarang berbeda dengan zaman kita dulu. Metode mengajar ceramah sudah tidak diminati. Oleh karenanya, perlu pembelajaran yang penuh dengan aktifitas, kreatifitas dan imajinasi.

8. Pengaruh Negatif Medsos dan Internet

Medsos dan internet di samping memiliki dampak positif bagi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, juga memiliki dampak yang negatif jika tidak digunakan secara baik. Kontent kekerasan dan pornografi serta game online sangat berdampak buruk bagi siswa. Banyak siswa yang cenderung exklusif, asosial, tidak peduli pada sesama, tidak taat pada orang tua termasuk gurunya, tidak peduli lingkungannya, berprilaku dan berkata kasar, memberontak dan lainnya, adalah akibat dari pengguanaan medsos dan internet yang keliru. Untuk itu diperlukan pengawasan dan pembinaan terkait penggunaan internet sehat bebas pornografi dan kekerasan serta pembatasan-pembatasan yang sesuai.


inilah beberapa penyebab murid berani melawan Guru. Namun demikian sikap melawan guru adalah perbuatan yang sangat amoral dan tidak bisa dibiarkan. Untuk itu perlu dilakukan upaya-upaya preventif sehingga meminimalisir bahkan menghilangkan terjadinya tindak kekerasan antar siswa apalagi terhadap guru.

Tinggalkan Balasan