Pentingnya Pendidikan Karakter di SMA Dalam Menghadapi Revolusi Indistri 4.0

Belum lama ini saya menghadiri Raker Kepala Sekolah SMA se Jatim di Surabaya dengan tema ” Revitalisasi SMA dalam peningkatan Mutu Pendidikan Karakter”. Di antara hal-hal yang menarik bagi saya adalah paparan Profesor Dr. Akhmad Muzakki, yang menjelaskan tentang revitalisasi SMA dalam menghadapi revolusi industri 4.0. Beliau menjelaskan secara panjang lebar dan apik tentang pentingnya pendidikan karakter di SMA khususnya dalam menghadapi revolusi industri 4.0.

Minimal ada 2 hal yang mendasari pentingnya pendidikan karakter di SMA. Pertama, dilihat dari hukum pengaruh, pendidikan di SMA merupakan tempat tarik menariknya pengaruh orang tua, guru dan teman. Pada masa kanak-kanak pengaruh orang tua sangat dominan. Pada masa SD, pengaruh guru sangat dominan. Pada masa SMP, pengaruh teman mulai masuk dan dominan. Dan pada masa SMA 3 pengaruh ini saling berebut mengambil perannya masing-masing. Disinilah dibutuhkan peran sekolah mensinergikan peran masing-masing secara baik, sehingga menghasilkan hasil yang positif bagi siswa. Orang tua memberikan support dan nasehat yang baik. Guru memberikan keteladanan dan nasehat yang baik. Teman juga memberikan support dan nasehat yang baik.

Pada era revolusi industri 4.0 seperti sekarang ini, guru sebagai pentransfer informasi sudah banyak tergantikan oleh internet dan smartphone. Untuk itu yang terpenting dari peran guru adalah menjadi teladan bagi siswanya. Pendidikan karakter merupakan tugas utama bagi guru sekarang ini. Pembinaan karakter tentang kemandirian, kedewasaan, tanggung jawab, kesopanan, kesederhanaan, kedisiplinan, kebersihan dan kerja sama sangat dibutuhkan. Siswa hendaknya diajarkan kepedulian kepada sesama dan lingkungannya.

Dampak teknologi industri antara lain, kurang kepedulian pada sesama, bahkan pada lingkungannya. Sifat individualistis semakin menguat. Satu sama lain sibuk dengan HP-nya. Suami isteri duduk berduaan tetapi sibuk dengan HPnya masing-masing. Tidak ada kehangatan dan keharmonisan keduanya. Hal ini tentu sangat tidak baik bagi perkembangan kejiwaan siswa-siswa kita. Untuk itu pendidikan karakter merupakan solusinya.

Kedua, siswa SMA merupakan jembatan akhir menuju perguruan tinggi. Sehingga dibutuhkan pembekalan-pembekalan yang cukup baik di bidang kognitif maupun sikap dan karakternya. Pembekalan materi mengingat mata kuliah di perguruan tinggi lebih sulit dan rumit. Pembekalan sikap lebih dibutuhkan menigingat pergaulan di kampus lebih bebas dan dinamis sehingga menuntut kemandirian dan kedewasaan.

Untuk itu Sekolah SMA perlu menata diri untuk mempersiapkan peserta didiknya lebih eksis dalam menghadapi era revolusi industri 4.0. Teknologi informasi tidak bisa dihindari. Karena itu sekolah hendaknya melakukan tiga hal berikut ini : pertama, mengimplementasikan, mengelola dan bekerja dengan menggunakan teknologi industri. Good luck.

Tinggalkan Balasan