Pentingnya Puasa Dalam Kehidupan

Puasa merupakan hal yang sangat penting bagi kehidupan kita. Untuk itu puasa disyareatkan oleh Allah swt tidak hanya untuk umat Islam saja, namun untuk umat-umat terdahulu. Semua agama menganjurkan umatnya untuk menjalankan ibadah puasa sesuai dengan caranya masing-masing. Bahkan dalam agama tertentu, puasa merupakan suatu cara untuk meningkatkan kualitas diri, kekuatan spiritual dan material.

Puasa atau al-shaum secara bahasa berarti al-imsak atau menahan diri. Secara istilah berarti menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa dari terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari. Ada beberapa hal yang membatalkan puasa antara lain makan, minum, hubungan seksual dan lainnya. Namun demikian, puasa yang sebenarnya, tidak hanya menahan diri dari hal-hal yang bersifat lahiriah saja, namun lebih dari itu, yaitu menahan diri dari perbuatan maksiat (yang dilarang oleh Allah). Karena itu puasa mencakup unsur lahiriah dan batiniyah; puasa mata dari pandangan tehadap yang haram seperti melihat wanita yang bukan muhrim dengan syahwat, puasa telinga dari mendengarkan ghibah, puasa mulut dari berkata bohong, mencaci, memfitnah, puasa hati dari hasud, iri, dengki, sombong, ujub, riya dan lainnya.

Puasa yang demikian inilah yang diinginkan oleh Rasul saw. Diriwayatkan bahwa Rasul saw pernah menyuruh seorang perempuan untuk memakan makanan, lalu perempuan tadi berkata : Aku berpuasa ya Rasul ? Kemudian Rasul saw berkata : Bagaimana kamu sedang berpuasa sedangkan kamu baru saja mencaci maki fulan bin fulan ?. Dari riwayat di atas, dapat dipahami bahwa puasa bukan sekedar menahan makan dan minum saja. Tetapi yang lebih penting dan urgen, bahkan ini yang menjadi esensi puasa adalah menahan seluruh anggota tubuh kita dari perbuatan yang dilarang oleh Allah swt.

Hal itu karena semua larangan Allah swt itu mendatangkan madharrat atau bahaya bagi kelangsungan dan kebahagiaan hidup kita. Ketika Allah swt melarang kita untuk berbuat zalim, mencuri, berzina, berbohong, iri, dengki, hasud, dan lainnya. Pasti dibalik itu ada bahaya yang mengancam diri kita yang akan menyebabkan hidup kita sengsara dan tidak bahagia di dunia apalagi di akherat. Karenanya semua perintah dan larangan yang Allah swt berikan kepada kita pada hakikatnya adalah karena kasih sayang Allah swt kepada hamba-hambanya. Ibarat seorang dokter yang menyuruh pasiennya untuk memakan makanan tertentu dan melarangnya untuk menjauhi makanan tertentu. Hal itu dilakukan demi kebaikan dan kesehatan pasien, manfaatnya kembali kepada pasiennya bukan kepada dokternya.

Bulan puasa merupakan momentum yang berharga untuk kita melatih menahan diri kita untuk tidak melakukan hal-hal yang negatif dan memacu diri kita untuk mengerjakan hal-hal yang positif. Karenanya, jika kita berhasil mengendalikan diri kita selama satu bulan penuh, niscaya kita akan berhasil mengendalikan diri kita selama 11 bulan yang akan datang. Jadi satu bulan romadhon ini merupakan bulan training pengendalian diri dan menahan nafsu angkara murka untuk dapat menyandang sifat-sifat ilahiyyah seperti kasih sayang, memaafkan, berbagi dan berempati kepada sesama. Dengan demikian, akan muncul pribadi-pribadi sepesial, unik dan istimewa yang mampu menampilkan sifat-sifat Tuhan dalam kehidupan sehari hari. Semoga kita tergolong dari mereka, amiin.

Tinggalkan Balasan