Refleksi Hari Raya Idul fitri

Hari raya telah berlalu, kini aktivitas masyarakat mulai kembali. Apa yang bisa kita ambil sebagai refleksi dari puasa dan hari raya idul fitri ini ? Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk melihat apakah puasa dan hari raya kita bermakna atau tidak:

Pertama, Semangat yang meningkat. Puasa merupakan training kepribadian yang berbasis spiritual dan transendental. Untuk itu puasa mestinya mendatangkan semangat dan spirit yang luar biasa. Jika puasa kita tidak mampu memberikan semangat baru dalam bekerja dan beramal, maka kita telah berpuasa dengan sia sia. Ingat bahwa semangat itu kunci kesuksesan seseorang dalam kehidupan. Tanpa semangat seseorang telah menjadi mayat sebelum dia mati. Karenanya semangat harus terus dipupuk dan ditingkatkan.

Kedua, Perubahan tingkah laku. Perbuatan yang baik akan mendatangkan perbuatan baik berikutnya. Begitu juga halnya dengan ibadah puasa. Puasa yang baik akan mendatangkan perubahan tingkah laku ke arah yang lebih baik. Dulu sebelum puasa selalu malas dalam melakukan sholat, setelah puasa menjadi giat dan rajin untuk sholat. Dulu sebelum puasa kikir, setelah puasa dermawan. Dulu selalu menunda-nunda pekerjaan sekarang selalu mengerjakan tepat waktu dan begitu seterusnya. Ini adalah ciri puasa yang diterima oleh Allah swt. Karena ibadah puasa yang kita lakukan selama satu bulan penuh bertujuan untuk menyiapkan diri kita lebih baik selama 11 bulan berikutnya.

Ketiga, Perubahan mindset dan pola pikir dari yang bersifat duniawi menjadi ukhrawi. Perbuatan seseorang sangat dipengaruhi oleh mindset dan pola pikirnya. Jika mindset hanya bersifat duniawi dan materialistis, maka pekerjaannya hanya bertujuan pada hal-hal yang bersifat materi dan pragmatis, tidak akan melebihi hasrat perut dan kemaluannya semata. Ibadah puasa melatih kita untuk mengurangi hasrat materia dan phisic kemudian mengangkat kita untuk tujuan yang lebih tinggi yaitu akherat dan alam setelah kematian. Karena pada hakikatnya kita sekarang sedang melakukan perjalanan menuju alam setelah kematian, alam barzakh dan akherat suka atau tidak suka. Setiap hari kita menyaksikan dan ikut bertakziah kepada teman, orang tua, tetangga yang wafat mendahuhului kita. Itu artinya kita sedang menunggu ajal yang menjemput kita. Tinggal apa persiapan kita selanjutnya? Maka tidak ada jalan lain bagi kita selain bersiap-siap untuk menghadapi kematian tersebut. Karenanya pola pikir dan mindset kita harus berubah dari duniawi yang materialistik menjadi ukhrawi yang spiritualistik. Semua perbuatan kita hendaknya dilakukan dengan ikhlas sebagai bekal di hari kematian yang sangat menakutkan itu. sehingga kita betul-betul siap menghadapi kematian karena sudah punya bekal yang cukup. Tiga hal di atas, hendaknya menjadi perhatian kita bersama untuk kehidupan yang lebih baik dan berkualitas

Inilah hakikat dari hari raya yang patut dirayakan. jika tiga hal di atas tidak tampak dalam kehidupan kita setelah hari raya, maka kita telah melakukan ibadah puasa dan hari raya yang sia-sia.

Tinggalkan Balasan